Kesadaran Beragama Pada Remaja

Kesadaran beragama pada remaja merupakan salah satu subjek kajian dalam psikologi agama. Ini karena remaja merupakan pribadi masa pertumbuhan untuk memasuki tahap masa dewasa. Kesadaran beragama merupakan bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dalam pikiran dan dapat diuji melalui instropeksi atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek mental dan aktivitas.
Jadi Kesadaran beragama merupakan sesuatu yang terasa, dapat diuji melalui instropeksi dan sudah ada internalisasi dalam diri seseorang, di mana ia merupakan rasa keterdekatan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari segalanya, yaitu Tuhan.
Sehubungan dengan jiwa remaja yang berada dalam transisi dari masa anak-anak menuju kedewasaan, maka kesadaran beragama pada masa remaja berada dalam keadaan peralihan dari kehidupan beragama anak-anak menuju kemantapan beragama. Disamping jiwanya yang labil dan mengalami kegoncangan, daya piker yang abstrak, logika dan kritis mulai berkembang. Emosinya semakin berkembang, motivasinya mulai otonom dan tidak dikendalikan oleh dorongan biologis semata. Dengan adanya gejolak batin tersebut akan tampak dalam kehidupan agama yang mudah goyah, timbul kebimbangan, dan kerisauan. Disamping itu remaja mulai menemukan penngalaman dan penghayatan ke-Tuhanan yang bersifat individual dan sukar digambarkan kepada orang lain seperti dalam pertobatan. Keimanan mulai otonom, hubungan dengan Tuhan makin disrtai dengan kesadaran dan kegiatannya dalam masyarakat makin diwarnai oleh rasa keagamaan.
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya. Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Tuhan dibayangkan sebagai person yang berada diawan, maka pada masa remajamereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensi. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.
Oleh karena itu meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama oleh orang tua mereka, namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuann dalam perkembangan kognitif, mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh perekembangan kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.
Dalam suatu studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif Piaget, ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3, yaitu formal operational religious thought, di mana remaja memperlihatkann pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis. Peneliti lain juga menemukan perubahan perkembangan yang sama, pada anak-anak dan remaja. Oser & Gmunder, 1991 (dalam Santrock, 1998) misalnya menemukan bahwa remaja usia sekitar 17 atau 18 tahun makin meningkat ulasannya tentang kebebasan, pemahaman, dan pengharapan konsep-konsep abstrak ketika membuat pertimbangan tentang agama.
Para ahli umumnya sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat di bagi dalam dua tahapan yang secara kulitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:
Masa remaja awal
Masa ini dapat dibagi ke dalam tiga sub tahapan sebagai berikut:
  1. Sikap negative (meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuatannya.
  2. Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.
  3. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic(diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan.
Masa remaja akhir
Masa ini tandai antara lain oleh hal-hal berikyut ini:
  1. Sikap kembali, pada umumnya, kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelanh dewasa.
  2. Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.
  3. Penghayatan rohaniahnya kembali tenanh setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik shalih) dari yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini.
Sikap remaja dalam beragama
Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:
Percaya ikut- ikutan
Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.
Percaya dengan kesadaran
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:
  1. Dalam bentuk positif semangat agama yang positif, yaitu berusahamelihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.
  2. Dalam bentuk negative Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar ke dalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.
Percaya, tetapi agak ragu-ragu.
Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
  1. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
  2. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
Tidak percaya atau cenderung ateis
Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.
Ada beberapa ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja. Diantaranya adalah:
  1. Pengalaman ke-Tuhanannya makin bersifat individual
  2. Keimanannya semakin menuju realitas sebenarnya
  3. Peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus

Daftar Pustaka
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda Karya, 2007.
Santrock, John W. Adolescence (Perkembangan Remaja). The University of at Dallas: Times Mirror higher Education, 1996.
Darajat, Zakiah. Remaja Harapan dan Tantangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 1990.
Ahyadi, Abdul Aziz. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: C.V. Sinar Baru, 1988.
Jalaluddin dan Ramayulis. Pengantar Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 1987
Abdul Aziz Ahyadi. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: C.V. Sinar Baru, 1988.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar