Gangguan Identitas Gender pada Anak dan remaja

Gangguan identitas gender pada anak dan remaja (Gender Identity Disorders in Children and Adolescents) adalah kasus yang banyak di alami oleh anak dan remaja saat ini. Gender identity disorder pada anak dan remaja sangat tidak umum dan sebuah kondisi yang rumit. Sering diasosiasikan dengan kesulitan emosional dan tingkah laku. Distress yang intens sering dialami, terlebih pada remaja.
Perubahan pada sikap budaya dalam masyarakat telah meningkatkan kesadaran pada masalah ini yang juga menunjukkan peningkatan jumlah penderita gender identity. Banyak orang dewasa dengan gender identity mendeskripsikan kesulitan pada masa anak-anak. Mereka sering mengeluh tidak pernah bahagia pada masa kecil dan pada masa remaja begitu sengsara, mereka juga merasa menderita akan orang tua dan para profesional yang tidak mengenali indikasi gender identity pada masa lebih awal. Inilah kenapa penting untuk dapat mengidentifikasikan masalah pada usia awal agar dapat menyediakan bantuan yang tepat.
Sejarah Gender Identity dan Gender Identity Disorder
Sebelum tahun 1955, kata ‘gender’ terbatas khusus pada area untuk mengindikasikan pria atau wanita ketika dipakai baik pada kata benda, pronoun, dan kata sifat. Definisi pertama untuk istilah ‘peran gender’ diberikan oleh John Money dalam artikelnya 'Hermaphroditism, gender and precocity in hyperadrenocorticism: psychological findings' yang diterbitkan oleh Bulletin of the John Hopkins Hospital pada tahun 1955. money ingin membedakan sebuah situasi dari perasaan, penerimaan, dan tingkah laku yang mengidentifikasikan seseorang sebagai anak laki-laki atau anak perempuan, pria atau wanita, berbeda dengan kesimpulan bahwa identifikasi dapat dilakukan hanya dengn mempertimbangkan gonad mereka. Istilah 'gender identity' muncul pada pertengahan 1960-an dalam hubungannya dengan pendirian sebuah kelompok studi gender identity pada University of California. Stoller mendefinisikannya sebagai :‘sebuah sistem yang kompleks dari kepercayaan mengenai dirnya sendiri tentang perasaan maskulinitas dan feminitas mereka. Hal ini tidak menunjukkan apapun mengenai dasar perasaan tersebut. Kemudian istilah ini menjadi konotasi psikologi menjadi keadaan sujektif sesorang.’
Konsep gender identity dan peran gender telah diciptakan, ini kemudian menjadi mungkin untuk masuk akal. Ketidaksesuaian antara jenis kelamin (biologis), kondisi psikologis, dan manifestasi perilaku dari gender identity mengindikasikan adanya gender identity disorder.
Criteria diagnostic DSM IV untuk gender identiy disorder dari APA 1994:
  1. Identifikasi lintas-gender yang kuat dan terus menerus (bukan hanya keinginan atas hal yang dirasa menjadi keuntungan dengan menjadi jenis kelamin yang berbeda). Pada anak-anak gangguan dimanifestasikan dalam empat (atau lebih) hal, yaitu (1) Keinginan berulang atas keadaan menjadi jenis kelamin yang berbeda, atau merasa bahwa dia memiliki jenis kelamin yang berbeda. (2) Pada anak laki-laki, menyukai cross-dressing atau memakai pakaian wanita ; pada anak perempuan, desakan hanya memakai pakaian stereotype maskulin. (3) Kesukaan yang kuat dan terus menerus untuk berperan cross-sex pada permainan berpura-pura atau terus menerus berfantasi menjadi jenis kelamin lain. (4) Merasakan keinginan untuk berpartisipasi pada permainan stereotypical dan hobi dari jenis kelamin yang berbeda. (5) Keinginan kuat mendapat teman bermain dari jenis kelamin yang berbeda. Pada remaja dan dewasa, gangguan dimanifestasikan dalam symptom seperti keadaan menginginkan menjadi jenis kelamin yang berbeda, sering dalam sementara waktu menjadi jenis kelamin yang berbeda, keinginan untuk hidup dan diperlakukan sebagai orang dengan jenis kelamin berbeda, atau kepercayaan bahwa dia mempunyai perasaan typical dan reaksi dari jenis kelamin yang berbeda.
  2. Terus menerus merasa tidak nyaman dengan jenis kelaminnya atau perasaan ketidaksesuaian peran gender dari jenis kelamin tersebut. Pada anak-anak, gangguan dimanifestasikan pada hal-hal berikut : pada anak laki-laki pernyataan bahwa penis atau testisnya menjijikkan atau akan hilang, atau pernyataan bahwa akan menjadi lebih baik tidak mempunyai penis, atau ketidaksukaan pada permainan keras dan membanting serta penolakan terhadap permainan atau kegiatan yang menjadi stereotype pria. Pada anak perempuan, penolakan buang air kecil dengan posisi duduk, pernyataan bahwa dia punya atau akan mempunyai penis, atau pernyataan bahwa dia tidak ingin payudaranya tumbuh atau menstruasi, atau ditandai dengan ketidaksukaan terhadap pakaian perempuan. Pada remaja dan dewasa, gangguan diwujudkan dengan symptom-symptom seperti obsesi untuk menghilangkan karakteristik seksual primer dan sekunder (seperti permintaan menambah hormone,operasi bedah atau prosedur lain untuk secara fisik mengubah karakteristik seksual) atau percaya bahwa dia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah.
  3. Gangguan tidak dibarengi dengan kondisi fisik intersex.
  4. Gangguan disebabkan distress klinis yang signifikan atau kerusakan sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting yang lain.
Klasifikasi Gender Identity Disorders pada Anak
Selama lebih dari 20 tahun empat model diagnosis telah diajukan:
  1. DSM IV tahun 1994.
  2. International Classification of Diseases-10 (ICD-10) (World Health Organization, 1992). Pada klasiikasi ini tidak ada pembedaan criteria A dan B. Diagnosis melibatkan gangguan yang berat dari normal gender identity; seperti perilaku tomboy pada anak perempuan atau perilaku kewanitaan dari pria tidak adekuat untuk menegakkan diagnosis.
  3. Rosen et al's (1997) membedakan antara identifikasi cross-gender dan gangguan perilaku gender. Klasifikasi ini mendapatkan ketidakpuasan karena sejumlah besar anak-anak (71 %) menunjukkan kedua karakteristik tersebut.
  4. Stoller (1968) mendiagnosis male childhood transsexuals. Hal ini berdasarkan adanya kepercayaan yang menetap pada seorang anak laki-laki bahwa dia adalah anggota dari jenis kelamin yang berlawanan dan akan tumbuh dengan mengembangkan karakteristik anatomi dari jenis kelamin yang berlawanan tersebut.
Etiologi
Tidak ada penyeab tunggal yang ditemukan dengan pasti pada perkembangan gender identity disorder. Hereditas (Bailey dan Pillard, 1991) and factor genetik (Hamer dkk, 1993) telah teridentifikasi pada homoseksual pria, tapi belum dapat dijelaskan secara pasti. Pengaruh hormonal pada otak selama dalam kandungan juga ada kemungkinan terjadi. Androgen dapat memaskulinkan otak pada periode critical saat enam minggu dalam kandungan.
Pada manusia ditemukan bahwa nukleus intrestitial ketiga pad hipotelamus anterior lebih lebar pada pria daripada wanita. Levay (1991) menyatakan bahwa otak kaum homoseksual pada nucleus tersebut memiliki ukuran yang sama dengan wanita dan kira-kira setengah dari volume laki-laki heteroseksual.
Stoller (1968) menjelaskan kelompok keluarga khusus yang dihubungkan dengan gender identity disorders pada anak perempuan dan laki-laki. Pada anak laki-laki ada sebuah hubungan yang terlalu dekat dengan ibu dan jauh dengan ayah. Untuk anak perempuan terdapat ibu yang depresi selama perkembangan awal anak dan ayah tidak mendampingi ibu, bahkan memaksa anak untuk menghapuskan depresi ibu.
Marantz dan Coates (1991) menyatakan pengaruh awal ibu pada perkembangan awal anak mempunyai hubungan yang negative.
Blieberg dkk (1986) menghubungkan perkembangan gender identity disorders dengan tidak adanya kelekatan terhadap figure pada masa awal anak-anak. Keinginan orang tua mempunyai anak dengan jenis kelamin yang berbeda atau tekanan orang tua dalam membesarkan anak dengan peran gender yang berlawanan tidak adekuat untuk menyebabkan gender identity disorder.
Management dan Therapy
Tujuan Therapeutic Primer:
  1. Untuk mendorong rekognisi dan penerimaan yang tidak menghakimi pada masalah gender identity.
  2. Untuk menperbaiki kesulitan hubungan, tingkah laku, dan emosi.
  3. Untuk memutuskan siklus rahasia.
  4. Untuk menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan dengan menggali kesukaran mereka.
  5. Untuk mendorong eksplorasi hubungan pikiran-tubuh dengan mengembangkan kolaborasi antara tenaga ahli dari berbagai focus pekerjaan, termasuk endokrinologis anak.
  6. Untuk mempermudah terjadinya proses ‘berkabung’.
  7. Agar kapasitas untuk membentuk symbol dan berpikir simbolik dapat dilakukan
  8. Untuk menimulkan perpisahan dan pembedaan.
  9. Agar anak atau remaja dengan keluarga mereka dapat menerima ketidakpastian dalam hal perkembangan gender identity.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar