Perkembangan Agama Pada Anak-anak

Perkembangan agama pada anak-anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang didapatkannya, terutama pada masa-masa pertumbuhan (0 – 12 tahun). Seorang anak yang pada masa itu tidak mendapatkan pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama.
Seyogyanya agama masuk ke dalam pribadi anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya, yaitu sejak lahir, bahkan lebih dari itu, sejak dalam kandungan. Karena dalam pengamatan para ahli psikologi terhadap orang-orang yang mengalami kesukaran kejiwaan. Tampak bahwa keadaan dan sikap orang tua ketika si anak dalam kandungan telah mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan jiwa anak dikemudian hari.
Hubungan anak dengan orang tuanya, mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak. Anak yang merasakan adanya hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan dilindungi serta mendapat perlakuan yang baik, biasanya akan mudah menerima dan mengikuti kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Akan tetapi, hubungan yang kurang serasi, penuh ketakutan dan kecemasan, akan menyebabkan sukarnya perkembangan agama anak.
Anak akan menerima apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Dia belum mempunyai kemampuan untuk memikirkan kata itu. Bagi anak, orang tuanya adalah benar, berkuasa, pandai dan menentukan. Oleh karena itu maka pertumbuhan agama pada anak tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya, karena tergantung pada lingkungan keluarganya (dominasi orang tua).
Sehubungan dengan pertumbuhan kepercayaan pada anak-anak, terjadi pula proses perkembangan pengertian tentang masalah yang ghaib, seperti mati. Anak-anak belum bisa mengerti bahwa mati adalah hal yang wajar bagi setiap orang yang bernyawa, termasuk manusia dan dia sendiri. Pada umumnya masalah mati memang satu masalah yang tidak menyenangkan, bahkan menimbulkan ketakutan, itu sebabnya maka banyak orang dewasa berusaha menghindari anak-anak dari pengertian dan ketakutan akan mati tersebut.
Pada permulaan, mati bagi anak-anak mengandung pengertian antara lain:
  1. Hati adalah hukuman, yaitu orang yang jahat sajalah yang akan mati, karena ia menyangka bahwa mati itu adalah sekedar perasaan sakit yang diderita orang. 
  2. Mati adalah penyakit. Disangka oleh anak-anak bahwa mati adalah terhalangnya sebagian orang dari menjalankan tugasnya, maka mati selalu berhubungan dengan pemikiran anak-anak dengan dokter, ambulance dan sebagainya. 
  3. Disamping itu, anak-anak menyangka bahwa mati adalah peristiwa (kecelakaan) yang tiba-tiba, misalnya tabrakan, tenggelam, kena pukul dan sebagainya. Maka mati bukanlah keadaan umum dan bukanlah akhir dari setiap yang hidup. 
  4. Tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh pengertian anak tentang mati adalah tidur.
Dengan semakin bertambahnya umur, pengertian tentang mati oleh anak semakin terdoronglah jiwanya untuk menentang atau menguah artinya, guna menguraikan kegelisahannya seseorang belum dapat dikatakan matang, jika belum dapat menerima kenyataan mati yang sebenarnya, hanya saja pengertian itu tidak didapatkan sekaligus, tetapi dengan berangsur-angsur.
Jadi, perkembangan jiwa agama pada anak dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman-pengalamannya yang didapatkan dari lingkungannya. Tetapi semua pengalaman itu akan berubah sesuai dengan umur (kematangan) anak oleh pendidikan yang didapatkannya. Jelas disini bahwa, pendidikan agama yang sehat pada masa anak-anak akan mempengaruhi jiwa agama pada anak selanjutnya.

Referensi:
Zakiyah Daradjat.dalam buku “Ilmu Jiwa Agama”.
Share on :


Related post:


1 komentar:

Anonim mengatakan...

tapi saya menemukan ada anak yang tidak tumbuh dan berkembang dalam keluarga dan lingkungan yang agamis, orang tua nya saja jarang sholat lingkungannya pun demikian. ia cma dapat pengetahuan dari guru agama disekolah sahaja, namun ia faham dengan agama dan sedikit pun ia tidak terpengaruh dengan lingkungan tempat tinggalnya.bahkan dia sanggup merobah lingkungan keluarganya secara perlahan.
jika dikaitkan dengan konsep (diatas Hubungan anak dengan orang tuanya, mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak. Anak yang merasakan adanya hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan dilindungi serta mendapat perlakuan yang baik, biasanya akan mudah menerima dan mengikuti kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Akan tetapi, hubungan yang kurang serasi, penuh ketakutan dan kecemasan, akan menyebabkan sukarnya perkembangan agama anak.
Anak akan menerima apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Dia belum mempunyai kemampuan untuk memikirkan kata itu. Bagi anak, orang tuanya adalah benar, berkuasa, pandai dan menentukan. Oleh karena itu maka pertumbuhan agama pada anak tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya, karena tergantung pada lingkungan keluarganya (dominasi orang tua).bagaimanakah itu?

Poskan Komentar