Pengaruh Hormon pada masa Puber dan Setelah Pubertas

Hormon adalah zat kimia dalam tubuh yang berfungsi sebagai katalis. Hormone sangat penting artinya dalam sejumlah aktivitas tubuh, baik untuk menunjang pertumbuhan, pengaruh emosi, perkembangan otak, perkembangan system saraf dan perkembangan sekunder jenis kelamin.

Pengaruh faktor-faktor biologis dan hormonal tidak terbatas hanya pada periode prenatal saja. Sejak masa pubertas, terdapat perbedaan utama yang menyangkut proses hormonal yang dihasilkan oleh pria dan wanita. Karena perbedaan hormone yang dhasilkan oleh pria dan wanita pada masa pubertas, sehingga memberikan implikasi psikologis yang berbeda antargende/antar jenis kelamin, khususnya aspek perkembangan fisik, aspek emosionan dan suasana hati (mood).

Pada wanita, puber dan menstruasi menimbulkan proses siklus pelepasan hormone yang berkaitan dengan perubahan perasaan dan perilakunya saat-saat tertentu selama periode siklus bulanan. Pada awal siklus, kelenjar pituitary mengintruksikan indung telur untuk melepaskan sejumlah besar estrogen, yang menyebabkan pertumbuhan didalam lapisan uterus. Pada periode pertengahan siklus, pituitary melepaskan sebuah hormone yang mengakibatkan ovulasi, jumlah estrogen turun, kemudian meningkat pada hari keduapuluh, dan turun lagi hingga akhir siklus.

Perubahan siklus pada hormon wanita lazimnya dipersepsikan berkaitan dengan karakterisik kepribadian wanita, termasuk mood yang berubah-ubah, kekerasan, ketidakmampuan membuat keputusan, sakit mental, dan berkurangnya koordinasi. Sebenarnya, anggapan ini adalah anggapan masa kuno, yang dipopulerkan pertama kali oleh filsuf Yunani. Kata hysteria (ledakan emosi yang tidak terkontrol) diambil dari kata Yunani “uterus”. Ada anggapan bahwa emosional wanita disebabkan oleh “rahim yang mengembara (wondering womb)”, dan hysterectomies dilakukan untuk menyembuhkan gangguan mental; anggapan semacam ini masih ada bahkan sampai sekarang. Ini merupakan contoh yang menunjukkan bagaimana prasangka kuno terhadap wanita dapat bertahan hingga kini dalam wujud teori-teori pseudosains modern. Fakta bahwa fluktuasi hormonal mempengaruhi mood dilebih-lebihkan sehingga menjadi sebuah stereotip yang beredar dimasyarakat bahwa feminisme bersifat “lemah dan tidak stabil”.

Meskipun anggapan bahwa wanita cenderung kurang bersahabat, merasa tegang, tidak stabil, menunjukkan gejala depresi dan kecemasan selama periode premenstruasi (ketika estrogen meningkat), dan sebaliknya merasakan harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi selama ovulasi, tidak semua wanita merasakan hal tersebut.  Hal ini masih dalam penelitian lebih lanjut, karena akan mempengaruhi jenis pekerjaan yang boleh dilakukan wanita, jika memang hormone ini berpengaruh. Seperti pejabat public yang harus membuat keputusan, anggota militer dan lain-lain.

Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar