Anak-Anak Kehilangan Masjid, Masjid Kehilangan Anak-Anak

Ini adalah sebuah fakta yang tejadi ditengah umat Islam saat ini. Mesjid besar kosong melompom, hanya diisi oleh orang-orang yang sudah uzur. “Salah satu pemuda yang dirindukan surga adalah ia yang hatinya terpaut di masjid”, demikian pesan dari Nabi Muhammad SAW.

Seperti mampu membaca zaman, pesan ini terasa aktual meski ribuan tahun telah berlalu. Lihatlah sekarang, betapa masjid bukan lagi menjadi ‘rumah kedua’ bagi para generasi muda. Tak sama di zaman saya masih anak-anak dulu. Kalau tak sholat maghrib dan belajar mengaji ke masjid akan diperolok oleh teman-teman.

Kini, saat maghrib mata anak-anak tak lagi terpaku di barisan huruf-huruf hijaiyah sambil berteriak lantang mengikuti huruf-huruf yang disebutkan ustadznya. Masjid mereka kini di ruang-ruang tamu, huruf-huruf hijaiyah mereka kini di sebuah kotak persegi yang dapat menampilkan gerak dan suara yang disebut televisi. Siapakah yang salah? Guru agama di sekolah? Orang tua mereka? Televisi? Atau kegiatan-kegiatan masjid, yang tak bisa memberikan entertaining seapik acara televisi?

Kali ini saya ingin menitik-beratkan pada jawaban yang terakhir.

Sebagai pusat kegiatan umat, masjid harusnya dapat menyajikan kegiatan-kegiatan yang dapat menarik minat anak-anak, karena bagaimanapun anak-anak inilah yang akan menggantikan mengisi masjid nantinya. Masjid harus mampu bersaing dengan acara televisi, playstation dan game online yang akhir-akhir ini membuat anak-anak kehilangan dunia kanak-kanaknya. Di zaman saya dulu, hampir setiap malam guru ngaji di masjid membuat kegiatan bagi kami muridnya. Lomba puisi, cerdas-cermat, latihan silat, mukul beduk, bakar jagung, qasidahan, sholawatan, dan lainnya.

Saya tidak mengatakan bakar jagung adalah kegiatan terbaik, tapi sebagai upaya menjadikan masjid sebagai rumah kedua untuk kami, apa yang dilakukan guru ngaji kami ini patut diapresiasi. Saat itu pembicaraan kami dimanapun melulu tentang masjid. Nanti sore main bola di halaman masjid yuk? Nanti malam di masjid acaranya apa? Sendal siapa yang semalam hilang di masjid? Siapa yang kena jewer pak guru ngaji tadi malam? Bahkan, kena repet ibu lari ke masjid, tidur.

Pendek kata, masjid menjadi tempat tongkrongan favorit kami. Dengan acara-acara yang dibikin oleh guru ngaji kami di masjid, kami merasa masjid sudah menjadi bagian dari kami. Sehari tak ke masjid serasa ada yang kurang. Semalam tak mengaji rasa menyesal sepanjang malam.

Coba bandingkan dengan anak-anak sekarang? Kata masjid terasa asing, jauh. Diajak ke masjid susahnya minta ampun. Masjid tak lagi menjadi bagian dari cerita masa kecil anak-anak. Anak-anak kehilangan masjid, masjid kehilangan anak-anak.

Karena itu masjid wajib berbenah. Ciptakan kegiatan-kegiatan menarik, mendidik, dan sesuai dengan masa perkembangan anak-anak. Nonton bareng, buka puasa bersama, tidur di masjid (bagi yang laki-laki), kunjungan ke panti asuhan, bikin klub bola, Pekan Lomba Anak Masjid, dan banyak lagi yang lainnya yang kiranya bisa membuat anak-anak rindu ke masjid. Yang kelak menjadi pemuda yang hatinya terpaut di masjid, pemuda yang dirindu surga. Semoga, amin….!!!

Share on :


Related post:


2 komentar:

adang mengatakan...

Inspiratif pak..

http://revolusigalau.blogspot.com/2012/01/pasang-peta-kesempatan-dapetin-hadiah.html

rendy pratama mengatakan...

benar" berdasarkan realita perkembanan anak masa kini... setuju :-)

Poskan Komentar