Keuntungan dan Kerugian Program Akselerasi pada Siswa di Dunia Pendidikan

Program askselerasi di dunia pendidikan diberlakukan pada beberapa sekolah untuk menjawab dan memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang mengalami bakat pada bidang tertentu. Menurut Pressey akselerasi adalah sebuah kemajuan yang diperoleh di dalam program pengajaran dalam kecepatan yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional. Sedangkan dalam program percepatan belajar untuk siswa SD, SLTP dan SLTA yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000, akselerasi didefenisikan sebagai salah satu bentuk pelayanan pendidikan yang diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan (Depdiknas, 2001).
Tidak bisa di kesampingkan, bahwa semua program mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Program akselerasi dalam dunia pendidikan, memiliki efek positif dan negatif secara langsung pada perkembangan anak didik.
Keuntungan Program Akselerasi.
Southeren & Jones (1991) menyebutkan beberapa keuntungan siswa yang ikut dalam program akselerasi yaitu:
  1. Efesiensi dalam belajar meningkat 
  2. Efektivitas dalam belajar meningkat 
  3. Adanya rekognisi terhadap prestasi yang dimiliki 
  4. Waktu untuk meniti karir lebih banyak 
  5. Produkstivitas meningkat 
  6. Pilihan eksplorasi dalam pendidikan meningkat 
  7. Siswa diperkenalkan dalam kelompok teman yang baru.
Kerugian Program Akselerasi
Terlepas dari keuntungan yang dikemukakan diatas, beberapa hal yang menjadi keberatan terhadap program akselerasi. Keberatan itu menyangkut bidang akademis, bidang penyesuaian diri sosial, bidang aktivitas ekstrakurikuler, dan bidang penyesuaian diri emosional.
a.    Bidang Akademis 
  1. Mungkin saja bahan ajar yang diberikan terlalu jauh bagi siswa sehingga ia tidak mampu beradaptasi dalam lingkungan yang baru, dan akhirnya menjadi orang yang sedang-sedang saja (mediocre) bahkan mungkin juga siswa akan mengalami kegagalan. 
  2. Kemungkinan terjadi yang ditampilkan siswa pada waktu proses identifikasi merupakan gejala seseaat saja. 
  3. Siswa akselerasi meskipun mmenuhi kualifikasi secara akademis, tetapi kurang matang secara sosial, fisik dan juga emosional untuk berada pada tempat yang tinggi. 
  4. Siswa akselerasi dituntut untuk lebih cepat memutuskan karirnya, sedangkan pada perkembangan usianya saat itu belum dibekali kemampuan untuk mengambil pilihan yang tepat.
  5. Pengetahuan siswa akselerasi dikembangkan dengan cepat tetapi belum pada waktunya karena dia belum memiliki pengalaman yang cukup. 
  6. Pengalaman yang mungkin cocok pada aksleleran bisa saja tidak diperolehnya dari kurikulum di sekolah. 
  7. Tuntutan anak untuk program akselerasi sangat besar sehingga kemampuan kreativitas berpikir divergen kurang mendapat perhatian.
b.    Penyesuaian Diri Sosial
  1. Siswa akselerasi didorong prestasinya secara akademis, dalam hal ini mengurangi waktunya untuk melakukan aktivitas yang lain.
  2. Siswa akselerasi akan kehilangan aktivitas dalam masa-masa hubungan sosial yang penting pada usianya.
  3. Siswa akselerasi kemungkinan akan ditolak oleh kakak kelasnya, sedangkan kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan kawan sebayanya hanya sedikit sekali.
c.    Aktivitas Ekstrakurikuler 
  1. Kebanyakan aktivitas kurikuler berkaitan dengan usia dan siswa kurang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas penting di luar kurikulum yang normal (yang sesuai dengan usianya). Hal ini juga akan mengurangi jumlah waktu untuk memperkenalkan masalah karir kepada mereka. 
  2. Prestosi dalam berbagai kegiatan atletik adalah penting untuk setiap siswa dan kegiatan dalam program akselerasi tidak mungkin menyaingi mereka yang mengikuti program sekolah secara normal, yang lebih kuat dan lebih terampil.
d.   Penyesuaian Diri Emosional 
  1. Siswa akselerasi mungkin saja akan mengalami frustasi dengan adanya tekanan dan tuntutan yang ada dan pada akhirnya merasa sangat lelah sehingga akan menurunkan tingkat prestasinya dan bisa terjadi ia menjadi siswa yang underachiever atau drop out. 
  2. Siswa Akselerasi yang memiliki kesempatan dalam masa kanak-kanaknya dan masa remajanya, akan terisolasi atau bersikap agresif terhadap orang lain. Suatu saat mereka mungkin saja menjadi orang yang antisocial karena mereka tidak mampu memiliki hubungan sebagaimana layaknya orang dewasa lainnya untuk berkencan, menikah dan membina kehidupan rumah tangga.
  3. Mereka akan kurang mampu untuk menyesuaikan diri dalam karirnya karena mereka menempati karir yang kurang tepat dan mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan yang ada sepanjang hidup mereka, atau mereka tidak akan mampu bekerja secara efektif dengan orang lain. 
  4. Tekanan yang terbentuk sejak kecil, kurangnya kesempatan untuk mengembangkan hal-hal yang cocok dalam bentuk kreativitas atau hobi dan adanya potensi untuk dikucilkan dari orang lain, akan mengakibatkan kesulitan dalam kehidupan perkawinannya kelak atau bahkan bunuh diri.

Referensi:
Yustinus Samiun. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Kanisius
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar