Belajar Siri’ na Pacce dari Filosofi Masyarakat Bugis Makassar


Siri’ na pace adalah dua suku kata yang merupakan filosofi dasar dalam kehidupan keseharian masyarakat Bugis Makassar. Dua kata ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dan mempunyai keterkaitan yang sangat mendalam. Jika dipisahkan, secara personal masyarakat akan mengalami split personality. Hubungannaya bisa seperti sebab dan akibat. “Siri’ na pacce” tidak mempunyai arti yang sepadan dalam kosa kata bahasa Indonesia yang ada. Jika kita berusaha mengartikannya dalam bahasa Indonesia mungkin akan mendekati kata “malu, harga diri”, atau “usaha yang kuat”. Jika sering belajar sastra melayu dia lebih mendekati kata “marwah” untuk kata “siri”, dan “pacce” lebih mendekati kata “tanggungjawab, sanggup memikul rasa pahit, pantang lari atau mengundurkan diri, berani mengambil resiko”.
Dalam bertingkah laku keseharian, masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi filosofi siri’ na pacce. Bahkan bisa dibilang, sebelum melakukan sesuatu, siri’ na pacce adalah pertimbangan utama. Dia adalah tolak ukur kebaikan, baik dalam melakukan hubungan sosial maupun ekonomi. Karena filosofii siri na pacce, bisa dilihat bahwa orang-orang Bugis Makassar adalah orang-orang tangguh, berani mengambil resiko, tetapi tetap dalam bingkai pacce (bertanggungjawab).
Masyarakat Bugis Makassar adalah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi “kehormatan”. Kehormatan yang dimaksud bisa berasal dari keturunan, ekonomi, jabatan, ataupun kehormatan suku ataupun kelompok. Disinilah bingkai siri’ na pacce akan di melekat. Masyarakat Bugis Makassar pantang untuk dihinakan atau dicela ataupun melakukan perbuatan hina dan tercela, kalau ini terjadi maka hancurlah kehormatan itu sendiri. Sehingga mereka siri’ (malu), dan untuk mempertaruhkan kehormatan itu maka dia siap menanggung pacce (bertanggungjawab).
Tetapi jika kita melihat lebih dalam siri na pacce, dia adalah filosofi yang sangat bermakna dalam. Dengan kehilangan filosofi ini, juga akan kehilangan identitas sebagai orang Bugis Makassar. Siri’ na pacce tidak identik dengan kekerasan. Dia lebih identik dengan menjaga kehormatan. Menjaga kehormatan yang dimaksud adalah unggul, terbaik, jujur, berani mengambil resiko tetapi tetap bertanggungjawab (pacce).
Nilai filosofis siri’ na pacce merepresentasikan pandangan hidup orang Bugis Makassar mengenai berbagai persoalan kehidupan meliputi: (1) prototipe watak orang Makassar yang terdiri atas: reaktif, militan, optimis, konsisten, loyal, pemberani, dan konstruktif. (2) nilai etis siri’ na pacce meliputi: teguh pendirian, setia, tahu diri, berkata jujur, bijak, merendah, ungkapan sopan untuk sang gadis,  cinta kepada Ibu, dan empati.
Dengan filosofi ini, kita bisa melihat contoh masyarakat Bugis Makassar adalah pelaut-pelaut ulung, dari zaman dahulu atau saudagar-saudagar yang yang sukses. Mereka tidak cengeng dengan keadaan yang ada, sehingga lautan yang luas menjadi hamparan harapan yang seluas lautan. Sekali layar terkembang, pantang untuk surut kembali. Ini adalah filosofi yang merupakan turunan dari siri’. Artinya, orang-orang Bugis Makassar, tetap pada keputusan awal, tanpa ada alternatif lain atau mengubah arah rencana, jika sudah diputuskan kita sama-sama menanggung resiko (pacce).
Siri’ na pacce juga lebih identik dengan kejujuran. Kejujuran adalah pintu kehormatan. menghianati kepercayaan adalah sebuah siri’ dan kehilangan siri’ adalah aib yang sangat melalukan. Dalam hubungan sosial, orang yang kehilangan siri’ adalah orang-orang yang terkucil.
Seyogyanya masyarakat Bugis Makassar adalah masyarakat yang hidup terhormat, menjadi pejabat yang bersih dan terhormat, Kalau tidak, dia sudah kehilangan identitas sebagai orang Bugis Makassar.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar