PENDEKATAN DIRECTIVE DALAM KONSELING

Inroduction
  • Directive konseling atau konseling langsung disebut juga counselor centered approach yakni konseling yang pendekatannya terpusat pada konselor. 
  • Pendekatan ini dipelopori oleh E.G. Williamson dan J.G. Darley 
  • Dalam teknik konseling ini aktivitas utama terletak pada konselor. 
  • Konsep direktif meliputi bahwa konseli membutuhkan bantuan dan konselor membantu menemukan apa yang menjadi masalahnya dan apa yang mesti kerjakan. 
  • Konselor yang mempergunakan metode ini membantu memecahkan masalah klien dengan secara sadar mempergunakan sumber-sumber intelektualnya. 
  • Tujuan utama dari metode ini adalah membantu klien mengganti tingkah laku emosional dan impulsif dengan tingkah laku yang rasional. 
  • Didalam membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi klien dengan rasional, konselor tidak boleh bersikap otoriter dan menuduh, walaupun dikatakan direktif. 
  • Larangan-larangan yang langsung, petuah yang didaktis dan petuah yang sifatnya mengatur sebaiknya di hindari.
Konseling direktif berlangsung menurut langkah-langkah umum sebagai berikut:
  1. Analisis data tentang klien (pengumpulan data yang relevan) 
  2. Pensintesisan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien. 
  3. Diagnosis masalah yaitu diagnosis atau kesimpulan tentang semua unsur pokok dalam masalah konseli dan sebab-musababnya 
  4. Prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya, serta berbagai implikasi dari hasil diagnosis 
  5. Pemecahan masalah, seperti konseling atau wawancara perseorangan untuk memikirkan penyelesaian terhadap problem yang dihadapi; 
  6. Follow-up atau tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil
Penamaan lain dari pendekatan directive
  • Trait-Factor Counseling merupakan corak konseling yang menekankan pemahaman diri melalui testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan beraneka problem yang dihadapi 
  • Corak konseling ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus dipecahkan dengan mengunanakan kemampuan itu (problem-solving approach) 
  • Corak konseling trait-factor dikenal juga dengan nama directive counseling atau Counselor-Centered Counselling, karena:
  1. memberikan porsi yang lebih besar kepada konselor dalam mengadakan intervensi, jadi konselor yang lebih berperan aktif dalam membantu klien.
  2. Konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseli sendiri.
  • Konseling Directive yang diperkenalkan oleh E.G. Williamson sering disebut juga konseling Behavioristik (perubahan tingkah laku).
  • Pendekatan dalam konseling ini didasarkan pada konsep bahwa masalah orang itu berkembang dan merupakan hasil kontak dengan lingkungan luarnya. 
  • Konseling direktif, yang karena proses dan dinamika pengentasan masalahnya mirip “ penyembuhan penyakit”, pernah juga disebut “konseling klinis” (clinical counseling). 
  • Dengan demikian, inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak dilakukan oleh konselor. Klien bersifat menerima perlakuan dan keputusan yang dibuat oleh konselor. Dalam konseling direktif diperlukan data yang lengkap tentang klien untuk dipergunakan dalam usaha diagnosis
Hakekat manusia
  • Manusia dilahirkan dengan membawa potensi baik dan buruk 
  • Manusia bersifat bergantung dan hanya berkembang secara optimal di tengah-tengah masyarakat. 
  • Manusia selalu ingin mencapai hidup yang baik 
  • Manusia banyak berhadapan dengan banyak pilihan-pilihan yang diintrodusir oleh berbagai pihak 
  • Hubungan manusia berkaitan dengan konsep alam manusia
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar