Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan dan Pencernaan

Anatomi dan Fisiologi
(Hidung, Farings, Larings, Trakea, Paru–paru)
Hidung
Hidung merupakan suatu bangunan yang berongga dan dipisahkan oleh sebuah sekat yang disebut septum Nasi. Bagian depan berhubungan keluar melalui naros, bagian belakang berhubungan dengan nasofarings. Pada potongan frontal berbentuk seperti buah alpukat dengan lateral menonjol 3 lengkungan tulang yaitu:
Konka nasalis superior
Konka nasalis media
Konka nasalis inferior
Pada konka nasalis inferior terdapat plexus vena besar yang berdinding tipis dan dekat permukaan yang disebut jaringan kovernosus --- membengkak bila terjadi alergi.
2) Pada konka nasalis superior terdapat reseptor penghidu --- mukosa olfaktoria. Disekitar rongga hidung terdapat rongga yang diisi udara yang disebut sinus paranasalis:
Sinus maxilaris
Sinus frontalis
Sinus Etmoidalis
Sinus spenoidalis
2. Farings
Naso farings
Orofarings
Laringofarings
Tuba eustachii terdapat pada nasofarings yang berfungsi
menyeimbangkan udara pada kedua sisi membrana tympani. Bila tekanan tidak sama telinga tarasa sakit, misal pada saat naik pesawat udara. Orofarings dipisahkan dari mulut oleh fauces pada fauces ---Tonsila. Pada larings farings bertemu sistem pernapasan dan sistem pencernaan.
Udara melalui bagian anterior kelarings. Makanan melalui bagian posterior ke esofagus melalui epiglotis yang flexible.
Larings (kotak suara)
Disamping berfungsi sebagai saluran pernapasan juga berfungsi menghasilkan suara melalui getaran pita suara. Larings ditunjang oleh tulang rawan:
kartilago tiroidea
kartilago krikoide
Intensitas, volume atau kerasnya suara ditentukan oleh jumlah udara yang melalui pita suara. Hasi akhir ditentukan oleh perubahan posisi bibir, lidah dan palatum molle.
Trakea
Merupakan tabung terbuka
Diameter kurang lebih 2 ½ cm
Panjang 10-12 cm
Meluas dari larings --- Puncak paru
Ditunjang oleh sederetan tulang rawan (16-20)
Berbentuk tapal kuda, bagian terbuka menghadap ke posteror (esopagus).
Bercabang dua: Bronchus kiri dan kanan.
5. Paru-paru
Terdiri 2 bagian:
paru kiri (tobus)
paru kanan (lobus)
Pertukaran gas berlangsung mulai dari bronchiolus respiratori sampai kealveoli
Istilah-istilah
Respirasi: Proses pertukaran gas O2 dan CO2
Respirasi eksternal: Pertukaran O2 dari paru–paru kedalam darah. CO2 + air keluar dari darah keparu.
Respirasi internal: pertukaran O2 dan CO2 ditingkat sel
Ventilasi: Proses masuk dan keluarnya udara dari paru.
Inspiras: masuknya udara kejalan napas sampai alveoli.
Expirasi: keluarnya udara dari jalan napas.
TUBERKULOSIS PARU
Etiologi :
Mikrobakterium tuberkulosis
Mikrobakterium bovis
Mikrobakterium atspik
Fatofisiologi :
* Basil kuman TBC masuk kedalam paru-paru orang yang sehat melalui perantaraan udara. Daerah yang paling sering menjadi tempat bersarangnya basil TBC adalah pada apex paru.
* Melalui pembuluh limfe basil dapat berpindah kebagian paru yang lain atau kejaringan tubuh lain.
* Ditempat bersarangnya kuman akan menyebabkan kerusakan jaringan paru---tuberkel. Tuberkel dapat bergabung menjadi satu disebut caverne.
* Bila dalam caverne terdapat pembuluh darah pembuluh darah tersebut dapat pecah saat batuk---hemoptoe.
Gejala klinik
Gejala sistematik
Malaise, anoreksia, berat badan menurun
Keringat pada malam hari
Demam tinggi, kadang disertai menggigil
Sianosis, sakit kepala
Respiratorik
Batuk lama lebih atau 4 minggu
Dahak berbentuk mucopurulem
Nyeri dada terutama saat batuk
Sesak napas
Pemeriksaan penunjang
Radiologi: foto torax
Bakteriologik: sputum BTA 3x berturut–turut (BTA:basil tahan asam)
Uji tuberkulosis: pada anak
Diagnosis
1. gejala klinik 3. radiologi
2. sputum BTA
Pencegahan
a. isolasi penderita c. vaccinasi BCG
b. kebersihan lingkungan
ASMA BRONKIALIS
Defenisi :
Asma bronchiolus adalah penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan menifestasinya adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya berubah–ubah baik secara spontan maupun hasil pengobatan.
Etiologi:
- Faktor intrinsik
- Faktor extrinsik
Alergen h. dll
Iritan (misal bau parpum)
Cuaca
Aktifitas fisik
Lingkungan kerja
Obat – obatan
Emosional
Patogenesis :
Belum jelas, dan dugaan sementara adalah ganguan syraf otonom dan sistem imun .
Gambaran klinis
Sesak napas
Batuk disertai dahak purulen
Nyeri dada saat batuk
Perasaan panik
Ause / wheezing / (mengi dalam bahasa indonesia)
Pengobatan
Prinsip pengobatan yaitu:
Hilangkan obstruksi jalan napas segera
Mengenal dan menghindari faktor pencetus
Penerangan kepada penderita dan keluarganya
Oksigen 2-4 liter/menit
Infus cairan 2-3 liter/hari
Aminophilin 5-6 mg/kgBB/IV
Kartikosteroid: Hidrocortion: 4 mg/kgBB
Dexamethason: 10-20 mg/hari
Antibiotika bila ada infeksi
Pencegahan
Pencegahannya adalah hindari faktor pencetus.
Status asmatikus: Serangan asma selama 24 jam atau lebih yang tidak berkurang dengan pengobatan biasa
BRONCHOPNEUMONIA
Defenisi:
Bronchopneumonia adalah peradangan pada pau-paru terutama pada bagian bronchiolus.
Etiologi:
- Bakteri: Pneomococus, Streptokokus, Hemopilus influensa
- Virus
- Jamur
- Asporasi (makanan / minuman)
Patofisiologi:
Kuman zat kimia masuk kedalam sel napas sampai bronchiolus.
Timbul peradangan pada daerah tersebut.
Akibat peadangan---kerusakan epitel mukosa yang bercampur exsudat.
Rongga alveolus dan sekitarnya berisi penuh dengan exsudat, lama kelamaan menjadi rusak akibatnya terjdi sumbatan pada jalan napas dan mengganggu proses pertukaran O2 diparu-paru
Gambaran klinis
Demam tinggi 390-400c kadang-kadang disertai kejang
Sesak napas
Batuk disertai sputum yang lengket
Sakit kepala, nyeri otot
Mual kadang-kadang muntah
Gelisah
Kadang-kadang disertai diare
Nyeri dada
Refraksi otot-otot pernapasan
Pernapasan cuping hidung
Sianosis
Dehidrasi
Catatan: Otot-otot pernapasan ada 3, yaitu:
Otot intercostal (antara tulang iga)
Otot sub sternalis (dibawah sternum)Otot sub costalis (dilengkungan tulang iga)
Cara penularan:
* Melalui makanan/minuman
* Droplet infeksi tubuh terutama oleh virus
Komplikasi:
Pleuritis (peradangan pada pleura)
Empiyema paru
Abse paru
Meningitis (peradangan pada selaput otak)
Diagnosis:
- Pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan penunjang: * Radiologi (torax photo)
* Laboratorium
Pengobatan:
Pemberian oksigen
Pemberian cairan intravena
Pemberiab antibiotika dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari
Pemberian kartiko steroid
Pemberian mocolitik (untuk mengencerkan lendir).
ABSES PARU
Etiologi.
Pneumonia
Kista pada parenkim paru
Penyusupan abses hati (E. Histolitika)
Pasca trauma
Aspirasi isi lambung
Kuman spesifik / non spesifik
Patofisiologi.
Kuman yang masuk kedalam paru-paru menyebabkan peradangan ditempat ia berada, lama-kelamaan menjadi besar dan membentuk kista diparu-paru.
Akibat peradangan abses dihati kumannya dapat berimigrasi masuk kedalam paru-paru dan membentuk abses diparu-paru.
Akibat apirasi isi lambung saat terjadi muntah dapat menyebabkan kuman yang ada dalam muntahan tersebut masuk kedalam paru-paru dan menyebabakna kerusakan.
Gambaran klinis.
* Demam tinggi kadang-kadang disertai menggigil.
* Nyeri dada terutama saat batuk.
* Kadang-kadang batuk dengan sputum bercampur darah yang berbau busuk.
Diagnosis.
Thorax foto: -- nampak suatu rongga yang berisis cairan dan udara (airfluid level).
-- Kadang hanya ada rongga seperti kavitas saja.
Aspirasi (penyedotan)
Pengobatan.
- Anti amuba---metronidasol.
- Kalau demam beri anti piretik.
SISTEM PENCERNAAN (TRACTUS DIGESTUS)
Merupakan sebuah saluran yang panjang mulai dari mulut---Anus.
Rongga mulut
Bibir dan Pipi
Bagian didepan ditutupi oleh bibir atas dan bawah
Jaringan utama: Otot rangka
Permukaan luar ditutupi oleh kulit yang mengandung folikel, rambut, dan kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat
Bagian dalam diliputi oleh mukosa
Pada tepian bibir lapisan epidermisnya lebih tebal dan transparan
Lapisan dermis, dibawahnya terdapat papila-papila dan plexus pembuluh darah yang menyebabkan warna merah pada daerah tersebut—merah bibir
Lidah
Terdiri atas 2 bagian yaitu: bagiab anterior dan posterior
Dipisahkan oleh sulkus terminalis yaitu suatu alur berbentuk ”V” yang terdapat pada permukaan atas dekat pangkal lidah
Sepertiga bagian belakang lidah, permukaannya tidak rata, melainkan bernodul yang disebut ”tonsila lingualis”
pada permukaan atas terdapat tonjolan kecil yang disebut ”papil”
Teredapat 3 jenis papil lidah,yautu:
Papila filiformis
Papila fungialis
Papila dirkumfalata
Pada bagia samping dan belakang juga terdapat sebuah papila yang disebut ”papila foliaka” yang berbentuk lipatan mirip daun
Papila-papila tersebut mengandung banyak ujung saraf sensorik untuk rasa sentuhan dan pengecapan
Gigi-geligi
Ada 2 macam gigi:
Gigi susu (gigi desidura) = 20 buah
Gigig permanen (gigi tetap) = 32 buah
Gigi susu erupsi pada usia sekitar 6 bulan sampai 2 tahun dan berangsur-angsur tanggal pada usia 12 – 13 tahun
Walaupun bentuk dan fungsinya beragam,tetapi susunan dasarnya adalah sama, yaitu:
Mahkota (korona)
Akar (radix)
Collum (leher)
Saliva (kelenjar saliva)
Diekskresikan oleh kelenjar-kelenjar kecil yang jumlahnya banyak didalam rongga mulut
Berfungsi membasahi ringga mulut vestibulum dan bibir
Kelenjar saliva utama yaitu:
Kelenjar parotis
Kelenjar sub mandibularis
Kelenjar submaxilaris
Kelenjar sublingualis
Akan mengeluarkan sekretnya dalamjumlah besar apabila dirangsang secara mekanis, kimiawi, psikis atau olfaktorik karena adanya makanan
Jumlah saliva kurang lebih 1000 ml/24 jam
Fungsinya:
Membasahi makanan agar mudah ditelan
Memberi cita rasa (amilase dan maltase)
Proteksi terhadap bakteri (lisosin, peroksidasi, Ig A)
Saluran cerna
Terdiri atas 4 bagian besar yaitu:
Esofagus
Lambung (maag)
Usus besar
Usus halus
Dibatasi oleh suatu katup otot/spingter
Mempunyai 4 lapisan yaitu:
Tunika mukosa, tunika sub mukosa, tunika muskularis, tunika adventisa (serosa).
Esofagus
Panjangnya kurang lebih 25cm, relatif kurus
Tunika muskularisnya agak unik
1/3 bagian atas : otot rangka
1/3 bagian tengah : otot rangka bercampur otot polos
1/3 bagian bawah : otot polos
Ujung atasnya terdapat sfingter esofagus superior
Ujung bawah terdapat sfingter inferior
(sfingter esofagus = gastrika)
Lambung
Terdiri atas 3 bagian yaitu:
Fundus, corpus, dan pilorus.
Makana dicerna dalam lambung selama 3 – 4 jam kemudian dikeluarkan dalam bentuk kimus secara perlahan.
Getah lambung mengandung Hcl (asam lambung), enzim (pepsin, renin, lipase), hormon gastrin.
Usus halus
Panjangnya : kurang lebih 720 cm
Terdiri atas 3 bagian yaitu:
Duedenum (usus 12 jari) = 20 cm
Yeyenum = 2/5 bagian
Ileum = 3/5 bagian
Funfsinya:
Mengangkut kimus dari lambung keusus besar
Menyelesaikan pencernaan
Menyerap hasil akhir pencernaan kedalam darah dan limfe
Pada permukaan mukosa terdapat: plika sirkularis, vilus dan kripe, mikrovili.
Usus besar
Panjangnya kurang lebih 180 cm
Terdiri atas: colon, sekum, apendix, rectum dan anus
Fungsinya:
+ Absorbsi cairan
+ Sekresi mokus (lendir)
Pankreas
Menghasilkan enzim pencernaan yaitu:
* Tripsin dan krimotripsin memecah protein
* Amilase menghidrolisis tepung dan karbohidrat
* Lipase menghidrolisis lemak netral menjadi gliserol dan asam lemak
Pulau langerhans terdiri dari:
Sel A (alfa) : glukogen
Sel B (beta) : insulin
Sel D (delta): Somastosin---menyeimbangkan produksi glukogen dan insulin.
Hepar
Beratnya kurang lebih 1,5 kg
Fungsinya:
Mempertahankan gula darah
Metaboloisme lemak
Meyimpang vit A, B dan Heparin
Menghasilkan fibrinogen dan abimin plasma
Mensintesis kolesterol
Mendetoksidasi bahan toksik
Memfagositosis benda asing
Hemofoesis pada fetus (janin) dan bayi
ESOFAGITIS
(PERADANGAN PADA ESOFAGUS)
Bagian atas dibatasi oleh spingter superior.
Proses menelan adalah merupakan gerakan mendorong makanan dari mulut kelambung. Diesofagus proses ini terlaksana karena 3 hal, yaitu:
Gerakan peristaltik primer
Gelombang kontraksi otot esofagus dari atas kebawah yang dimulai dengan gerakan menelan.
Gerakan peristaltik sekunder
Yaitu gelombang kontraksi otot esofagus yang lebih lemah dan dibantu oleh peregangan esofagus oleh makann.
Daya gravitasi
Penyakit esofagus yang berkaitan dengan gerakan-gerakan tersebut adalah:
Disfagia
Kesukaran sat menelan
Timbul akibat:
Inkordinasi gerakan otot esopagus waktu menelan.
Penyempitan lumen esofagus oleh tumor, peradangan atau striktur.
Perasaan bahwa makanan terhenti pada satu bagian dari esofagus.
Makanan yang seing sebagai penyebab adalah makanan padat.
Nyeri
Heartburn
Sifatnya:
- Panas membakar - Timbul dibelakang ujung ulang dada
- Mencekam/mengiris
Penyebabnya: reflux isi lambung
Sering menyertai disfagia
Rasa terbakar biasanya disertai bersendawa yang asam
Bersendawa
- Keluarnya udara dari lambung atau esofagus
- Biasanya akibat gangguan fungsional dari penyakit lambung
Regurgitasi
- Munculnya isi lambung dimulut tanpa mengeluarkan tenaga.
- Penyebab:
Obstruksi pada esofagus
Inkompetensi sfingter esofagus bawah
TUMOR PADA ESOFAGUS
Insidens: - Umur diatas ≥ 50 tahun
- : = 7 : 1
- Berbeda pada setiap Negara
Etiologi:
Tidak jelas
Diduga: factor lingkungan dan nutrisi berpengaruh
Frekwensi tertinggi di Afrika dan Cina Utara.
Gambaran klinis:
Disfagia sebagai gejala awal: 75 – 85%
Sakit pada bagian dada depan maupun belakangnya yang menetap walaupun tidak makan.
Berat badan menurun
Suara serak: N. recureus laringeus
Fistula trakea bronkialis: keadaan lanjut.
Hematenesis
Pemeriksaan fisis:
Tidak banyak membantu
Terasa pembesaran kelenjar limfa dileher
Kadang-kadang paralysis pada gerakan aduksi unilateral.
Diagnosis:
Radiologi
Dengan bubur barium
Terlihat gambaran tumor dengan permukaan yang erosive dan kasar.
Endoskopi dan biopsi
Sitologi
Ct.scan
Prognosa: Jelek
ULKUS PEPTIKUM
Defenisi: Adalah suatu kerusakan atau hilangnya jaringan mukosa, sub mukosa sampai lapisan otot suatu daerah saluran pencernaan makanan yang mengandung cairan asam lambung asam pepsin dengan batas yang jelas dan bersifat jinak.
Etiologi:
Belum diketahui pasti
Faktor predisposisi:
Seks:
: = 3,5 : 1
Ras:
Kulit putih > kulit hitam
Indonesia agak jarang
Faktor-faktor lain:
* Herediter
* Psikis dan golongan darah
* Asam lambung
* Helicobactery pyloti
Gambaran klinis:
Nyeri pada epigastrium
Pain-foot-relief
Night pain (terbangun tengah malam karena nyeri)
Diagnosis; berdasarkan:
Anamnesis
Pemeriksaan fisi
Pemeriksaan roentgen (radiology)
Endoskopi
Anamnesis
Nyeri
Nyeri hilang bila diisi makanan yang tidak merangsang
Hematenesis
Pemeriksaan fisis
Nyeri tekan epigastrium
Tanda-tanda komplikasi yaitu perforasi, defaus muskuler (kejang otot perut), penurunan tekanan darah, nadi cepat.
Pemeriksaan radiologist
* Filling defec dengan pemeriksaan kontraks.
Endoskopi
Tampak daerah ulkus.
Keuntungan endoskopi
Tukak kecil dan kelainan kecil dapat ditemukan.
Kecurigaan kegananasan dapat dilakukan biopsy (mengambil sebagian jaringan untuk pemeriksaan).
Bila ada perdarahan, dapat ditemukan sumbernya.
Aman.
Pengobatan:
Diet lunak
Makanan tidak mengandung asam/tidak merangsang.
Diet rendah lemak dan tidak mengandung gas.
Golongan antasida.
Mengurangi stress.
KARSINOMA LAMBUNG
Etiologi:
Belum diketahui secara pasti.
Diduga diet mengandung peranan.
Faktor predispoisi:
* Herediter
* Golongan darah ”A”
* Pasca bedah lambung
Gejala klinik:
Nyeri perut bagian tas
Anoreksi disertai mula-muntah.
Disfagia
Perasaan cepat kenyang
Hematenesis melena.
Perforasi.
Gastrolie fistula.
Diagnosis:
Radiologi: dengan bubur barium.
Endoskopi + biopsy + sitologi
Tindakan: Operasi
Prognosis: ragu-ragu (dubia)
DEMAM TIFOID
Etiologi:
* Salmonella typhi.
* Salmonella paratyphi (A,B,C).
Distribusi:
Didaerah tropis.
Sepanjang tahun, meningkat pada musim hujan.
Sex: tidak ada perbedaan.
Umur: lebih sering pada anak-anak.
Cara penularan: Melalui makanan dan minuman.
Lokalisasi: Usus halus terutama ileum bagian distal.
Gejala klinis:
Demam 10 – 14 hari.
Bradicardi (normal pada orang dewasa 80 – 100 kali permenti).
Lidah kotor pada bagian tengah, tepi dan ujung merah serta tremor.
Hepatomegali.
Splenomegali (pembesaran ginjal). g. Obstipasi (diare).
Meteorismus (perut gembung). h. Gangguan kesadaran
Pemeriksaan penunjang: Widal.
Pengobatan:
* Perawatan
* Diet.
* Obat-obatan.
Perawatan:
Penderita tirah baring sampai 7 hari bebas demam kemudian mobilisasi secara bertahap.
Posisi penderita harus selalu diubah-ubah untuk mencegah komplikasi.
Diet: Bubur saring, diet lemak.
Obat-obatan:
Chloramfenicol --- Drug of choice (obat pilihan utama.
Dosis: 1.500 – 3.000 mg/hari terbagi dalam disis 3 – 4 kali perhari.
Ampicillin/Amoxillin (obat pilihan kedua).
Dosis: sama dengan clhoramfenicol.
Ciprofloxacin (obat generasi ketiga yang sekarang banyak digunakan).
Roborantia (vitamin).
Komplikasi:
Perdarahan usus.
Perforasi usus.
Ileum paralysis (kelumpuhan pada ileum).
Meningitis tiposa.
Prognosis: Tergantung
Umur
Keadaan umum penderita
Derajat kekebalan tubuh
Jumlah dan virulensi kuman
Cepat dan tepatnya pengobatan
Diagnosa banding (DD):
Influensa
Malaria
Disentri basiler.
Penyakit lain dengan demam lama.
Pencegahan:
Terhadap lingkungan.
Terhadap manusia.
GASTROENTERITIS (DIARE)
Gastroenteritis adalah perubahan pola buang air besar lebih dari 3 x dengan konsistensi encer, kadang – kadang disertai darah dan lendir.
Etiologi:
Infeksi
Virus: Enterovirus, rotavirus, dan lain – lain.
Bakteri: Vibrio, E.Coli, Salmonella.
Parasit: Cacing
Protozoa: E. Histolitika
Keracunan makanan
Mal absorpsi
Imunologik
Gejala klinik:
BAB > 3x
Konsistensi encer
Kadang –kadang disertai darah dan lendir
Muntah
Diagnosis:
Anamnesis
Pemeriksaan penunjang
Komplikasi:
Dehidrasi
Gagal ginjal
Terapi:
Resusitasi cairan dan elektrolit (RL).
Pengobatan sesuai dengan penyebabnya.
Kalau ada muntah beri obat anti emetik.
Catatan:
Score Daldiono
Gejala klinik Skor
Muntah 1
Voxs Clolerika (suara serak) 2
Kesadaran apatis 1
Kesadaran somnnolen, soporus, koma 2
Tensi sistolik f Nadi diatas atau sama dengan 120x/menit 1
Nafas > 30x per menit 1
Turgor kulit kurang 1
Facies cholerica 2
Ekstremitas dingin 1
Jari tangan keriput 1
Sianosis 2
Usia diatas atau sama dengan 50 tahun -1
Usia diatas atau sama dengan 60 tahun -2
Kebutuhan cairan dalam 2 jam:
Score/15 x 100% x BB (kg) x 1 liter
Score 8 : Dehidrasi ringan
9 – 13: Dehidrasi sedang
> 13: Dehidrasi berat
Catatan:
a. Hiperplasia : Pembesaran jaringan disertai penambahan jumlah sel pada jaringan tersebut.
b. Hipertropi : Pembesaran jaringan / organ akibat pembesaran sel.
APPENDICITIS (UMBAI CACING / USUS BUNTU)
Appendicitis akut
Appendicitis kronik
Apendicitis akut (APPitis)
Etiologi:
Infeksi
Obstruksi
Hiperplasia jaringan limfe
Fecolith
Tumor appendix
Erosi mukosa oleh parasit
Gejala klinik:
* Nyeri epigastrium
* Nyeri daerah mcBurney
* Mual/muntah
* Konstipasi
* Nyeri perut saat batuk
* Demam
Pemerksaan fisik
* Nyeri tekan perut kanan bawah (mcBurney)
* Defaus musculer
* Rovsing sign (+)
* Blumberg sign(+)
Diff (differensial diagnosa/diagnosa banding)
Gastroenteritis
Demam dengue
Limfadenitis mesenterika
Infeksi panggul : PID (pelvic inflamatory dysease)
KET (kehamilan ectropic terganggu/hamil diluar kandungan)
Urolitiasis (batu pada kandung kemih)
Komplikasi : perporasi
APPitis kronis
Nyeri perut kanan bawah kurang lebih atau sama dengan 2 minggu
Radang kronis appendiks : mikroskopik dan makroskopik
Insidens 1 – 5 %
Terapi : operasi
HERNIA
Hernia adalah merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian yang lemah dari dinding rongga tersebut.
Berdasarkan kejadiannya dibagi atas:
Hernia kongenital/bawaan
Hernia didapat
Berdasarkan letaknya dibagi atas:
Hernia diafragma -->
Hernia Inguinalis / H. scrotalis pada laki – laki
Hernia Femoralis / H. labialis pada perempuan
Hernia Umbilikalis --- menonjol keluar kepusat pada anak – anak
Hernia insisional --- karena bekas operasi
Berdasarkan sifatnya:
Hernia reponibilis --- masih bisa dimasukkan
Hernia Irreponibilis --- sudah susah untuk dimasukkan
Pengobatan:
Konservatif
Operasi
KOLITIS ULSEROSA
Merupakan penyakit inflamasi mukosa yang membentuk abses di kripte yang bergabung menjasi tukak.
Umumnya ditemukan didaerah kolon dan rectum.
Gambaran klinik
Perdarahan 7. Berat badan menurun
Diare bercampur darah, nanah dan lendir
Tenesmus (perut kembung)
Incontenensia alvi
Demam
Mual - mual
Diagnosis
Laboratorium: faeses
Radiologi: colon in loop
Komplikasi
Abses perianal (abses sekitar anus)
Fistel perianal
Fissura ani (robeknya anus)
Penanganan:
Konservatif
operasi
Konservatif:
Isterahat
Diet
Obat – obatan : Kortikosteroid dan golongan sulfa
Operasi:
Penyakit lama yang membandel
Resiko keganasan
HEPATITIS VIRUS A
(HVA)
Disebut juga:
* Hepatitis infeksiosa
* Hapatitis dengan inkubasi singkat
Adalah merupakan infeksi sistematik akut oleh virus dalam hati.
Etiologi: Virus hapatitis A
Epidemiologi:
Masa inkubasinya pendek
Snagat menular
Transmisinya secara feca oral
Menyerang golongan ekonomi rendak dengan sanitasi lingkungan yang buruk.
Anti HA dapat ditemukan sejak lahir
Gambaran Klinis:
Anoreksia (malas makan)
Nausea (mual)
Muntah – muntah
Lemah – lesu
Artralgia – mialgia
Sakit kepala – fotofobia
Batuk – demam (380 – 390c)
Bila keadaan lanjut akan mengakibatkan:
Urine warna gelap
Tinja warna coklat
Ikterus pada sklera
Hepatomegali
Nyeri perut kanan atas
Splenomegali
Penyembuhan setelah 3 - 4 minggu
Diagnosis:
Peninggian enzym hati (SGOTL, SGPT, BILIRIBIN).
Penururnan kembali dengan cepat setelah 1 – 3 minggu.
Ig M dan anti HA
Prognosis:
* Sembuh sempurna tanpa meninggalkan gejala sisa.
Pengobatan:
Tidak ada yang sfesifik
Perbaiki keadaan imun penderita
Diet rendah lemak disesuaikan keadaan penderita
Isolasi penderita
HEPATITIS VIRUS B
(HVB)
Etiologi: Virus hepatitis B
Cara penularan:
* Secara parenteral (pembuluh darah)
* Dari ibu kepada anak yang dilahirkan
Kelompok resiko tinggi:
Tenaga medis dan paramedis
Pecandu narkotika suntikan
Penderita yang membutuhkan transfusi darah
Gambaran klinis:
Berdasarkan gejala klinis dan reaksi sistem imunologik dibagi atas 2 macam yaitu:
Infeksi akut: reaksi imunologik sempurna
Infeksi kronis: reaksi imunilogik berkurang
Gejala klinis infeksi hepatitis B akut
Ada 3 macam menifestasi klinis infeksi virus hepatits B akut, yaitu:
Hepatitis B akut yang khas (typical acute type b hepatitis).
Hepatitis B fulminan
Hepatitis akut simtomatik
Hepatitis B yang khas
Masatunas: 75 hari
Terdiri dari 3 fase yaitu:
* Fase prodromal
* Fase ikterik
* Fase penyembuhan
Fase prodromal
Keluhan gastroenteritis
Sakit kepala
Nyeri sendi
Demam
Air seni warna gelap
Fase ikterik
Gejala prodromal menghilang
Hepatomegali (pembesaran hati)
Splenomegali
Nyeri tekan perut bagian bawah
Fase penyembuhan
Enzym hati menurun
HBs Ag menurun sampai negatif
Hepatitis B fulminan
1 – 3 % hepatitis akut tipe B yang simtomatik.
Terdapat tanda – tanda ensefalofati hepatik pada fase akut seperti perubahan pola tidur, perubahan kepribdian kemudian segera diikuti dengan koma hepatik.
Ukuran hari cepat mengecil dan terjadi fibrosis
Bilirubin serum cepat meningkat, untuk protrombin memanjang.
Saat keadaan klinis memburuk HBs Ag menjadi negtif --- buan tanda prognostik membaik.
Biasnya meningal beberpa hari sampai beberapa minggu setelah permulaan gejala klinis.
Hepatits akut simtomatik
Paling sering terjadi
HBs Ag hanya positif dalam waktu yamg pendek kemudian menjadi negatif kembali sehingga kadang – kadang tidak terdeteksi.
Gejala klinik infeksi virus B kronik
Kurang lebih 5 - 10% dari penderita hepatitis B akut.
HBs Ag sangat tinggi
HBs Ag menetap/positif sampai bulanan, tahunan atau bahkan seumur hidup.
Dibagi atas 3 fase yaitu:
Fase hepatitis akut/sub akut
Fase hepatitis kronik
Fase pemgidap tanpa gejala
Fase hepatitis akut/sub akut
Berlangsung 1 – 6 bulan
Umumnya cenderung menjadi persistensi
Keluhan umumnya rimgan atau tidak jelas berupa anoreksia, mual, muntah, atau tiak enak perut kanan atas.
Enzym aminotransferase tinggi, HBs Ag tinggi, bilirubin normal.
Fase hepatitis kronis
Keluhan subyektif berkurang
Berlangsung antara satu tahun sampai puluhan tahun.
Enzym amonotransferase tinggi, HBs Ag rendah.
Sebagian kecil berlanjut menjadi sirosis hepatitis (lever/orang awam).
Menjadi hematom (kankerhati).
Fase pengidap HBs Ag tanpa gejala
Enzym hati menjadi normal
Gejala klinis menghilang
HEPATITIS TOKSIK
Disebut juga hepatitis obat.
Klasifikasi klinik:
Obat hepatotoksikdibagi menjadi 2 menurut efeknya terhadap hati:
Obat dengan efek hepatotoksik langsung.
Obat dengan efek hepatotoksik tidak langsung
Obat dengan efek hepatotoksik langsung
Kerusakan hati selalu terjadi dan dapat diduga sebelumnya.
Selalu dapat ditimbulkan pada percobaan hewan.
Bergantung pada dosis.
Masa tunas pendek.
Tidak disertai reaksi imunologik
Diseratai gejala umum.
Disertai kerusakan organ lain.
Obat dengan efek hepatotoksik tidak langsung
Kerusakan hati jarang terjadi dan tidak dapat diramalkan.
Tidak dapat ditimbulkan pada percobaan binatang.
Tidak bergantung pada dosis.
Masa tunas bervariasi, biasanya lama.
Ada reaksi imunologik
Diseratai gejala umum
Kerusakan organ lain jarang
Diagnosis:
Sulit dipastikan karena mirip dengan bentuk hepatits virus.
Dalam anamnesis sulit mencari penyebabnya karena penderita tidak mengang- gap zat itu sebagai obat misalnya: obat pencahar, kosmetika, hormon dll.
Ikterus (kuning).
Gfejala hipersensitif: Demam obat, artritis (nyeri pada persendian), mialgia, nyeri kepala, gatal dsb.
SGPT dan SGOT menurun.
Pengobatan:
Kausal
Simtomatik .
Share on :


Related post:


1 komentar:

i luph psikologi mengatakan...

syukran kak

Poskan Komentar