KONFLIK PALESTINA VS ISRAEL DITINJAU DARI PSIKOLOGI SOSIAL

Latar Belakang
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar berita tentang terorisme, pembunuhan massal, peperangan antar suku dan kelompok ataupun yang lebih besar yang melibatkan suatu negara dengan negara lain. Kekerasan seakan sangat akrab dengan kehidupan kita. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, sekolah, kelompok, masyarakat ataupun antar Negara seperti yang sudah disebutkan diatas.
Kekerasan, jika dilihat lebih dalam sebenarnya tidak muncul begitu saja, tetapi kekerasan adalah suatu respon dari keadaan yang dihadapi manusia. Kekerasan adalah merupakan agresi, yang dimana dapat merusak baik secara fisik maupun psikologis korban. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, apakah kekerasan itu merupakan suatu respon yang dipelajari terhadap stimulus dari lingkungan atau kekerasan itu merupakan suatu sifat genetic bawaan dari manusia?
Menurut Thomas Hobbes, manusia adalah“Homo Homini Lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Menjawab pertanyaan diatas, saya akan menjawabnya dari pandangan psikologi sosial. Kekerasan adalah suatu respon terhadap stimulus yang datang. Respon yang dimunculkan oleh individu menurut Kurt Lewin[1], merupakan elemen-elemen yang menjadi dasar kepribadiannya. Kepribadian ini merupakan lokus-lokus dalam pengalaman individual, dimana dari luar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologik atau lapangan kesadaran seseorang. Jadi kekerasan muncul karena adanya referensi pengalaman dalam otak kita terhadap cara menghadapi masalah.
Jadi, konflik yang melibatkan kekerasan tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang dialami individu atau kelompok bahkan suatu Negara. Suatu kelompok/negara memiliki corak dan budaya serta pengalaman historis tersendiri, sehingga akan mempengaruhi cara perlakuan terhadap permasalahan dan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk menyesaikan permasalahan tersebut.
Kita lihat, perang yang terjadi antara Bangsa Palestina dan Bangsa Israel (Zionis Yahudi), seakan tidak akan pernah berhenti. Belum lama ini (bulan February 2009) Bangsa Israel menyerang secara membabi buta, dan menghancurkan apa saja milik bangsa Palestina (Jalur Gaza) baik rumah, maupun rakyat sipil (anak-anak dan perempuan). Ribuan manusia jadi korban, ribuan rumah dan fasilitas umum, perkantoran, hancur berantakan. Bangsa Israel bernafsu untuk melenyapkan Bangsa Palestina (Hamas). Demikian juga bangsa Palestina, bernafsu untuk melenyapkan bangsa Israel dari muka bumi.
Apa yang menyebabkan perang ini terjadi dan tidak dapat dihentikan? Apakah bisa mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina?
Perang adalah suatu kekerasan terbesar dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, Apalagi perang antar negara, yang membutuhkan biaya yang besar dan menyita seluruh tenaga dan pikiran, harta bahkan nyawa. Dalam berperang semua oknum yang terlibat akan mengupayakan segala cara untuk memenangkan peperangan itu. Sehingga untuk melindungi korban yang tidak berdosa, dibuatlah suatu kesepakatan perang (Konvensi Jenewa) dan suatu lembaga yang independent (Perserikatan Bangsa-Bangsa), agar rakyat sipil tidak menjadi korban dari kebuasan peperangan.Penyerangan Bangsa Is
rael ke Palestina (Jalur Gaza), yang menembaki dan membom (bom sulfur yang dilarang PBB) rakyat sipil sehingga ribuah rakyat Palestina menjadi tumbal peperangan. Ini adalah suatu kejahatan perang menurut versi pro-Palestina (negara-negara muslim). Bagaimana menurut Israel sendiri? Israel menganggap bahwa perang ini untuk melindungi rakyat Israel dari serangan Palestina (Hamas).
Melihat mundur ke sejarah, perang antara Palestina dan Israel sudah terjadi sejak berdirinya bangsa Israel tahun 1948. Perang itu tidak pernah berhenti sampai sekarang. Bangsa Israel berdiri diatas tanah bangsa Arab yang sebelumnya dikuasai oleh Turki kemudian di ambil alih oleh Inggris sesudah perang dunia I. Bangsa Israel (Yahudi) sebelumnya tidak mempunyai tanah air.
Melihat sejarah lebih kebelakang lagi, bangsa Yahudi adalah keturunan Ya’qub As, yang dikeluarkan oleh Musa As dari Mesir, dan dijanjikan tanah Kana’an (Palestina). Dari sejarah kitab suci (Al-Qur’an, Injil/kitab keluaran, dan Taurat) didapatkan bahwa orang Yahudi sering membunuh nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk mereka, Sehingga Allah murka kepadanya. Beberapa kali bangsa Yahudi dijajah oleh bangsa lain. Ratusan tahun sebelum masehi, Bait Sulaeman diratakan oleh Nebukadnesar (Persia). Pada tahun 60-an Masehi, Yahudi memberontak kepada kekuasaan Romawi, tapi Gagal, sehingga terjadi pengusiran dari tanah Palestina. Kemudian berangsur-angsur masuk lagi. Pada tahun 130-an masehi, umat Yahudi memberontak lagi terhadap penjajahan bangsa Romawi (Kaisar Nero), dan dapat dikalahkan oleh tentara Romawi. Seluruh orang Yahudi dilarang masuk ke tanah Palestina. Ini yang dikenal dengan Great Deaspora. Tahun inilah yang memulai orang yahudi menyebar tanpa tanah air. Mereka menyebar ke Eropa, dan Asia (Tanah Arab).
Pada abad ke-7 masehi, Palestina dapat direbut oleh orang-orang Islam. Kekuasaan orang-orang Islam ini berlangsung sampai kekalahan Turki pada perang Dunia I oleh Inggris, sehingga menyerahkan Palestina kepada Inggris. Rentang waktu dari abad ke-7 sampai tahun 1918 adalah waktu dimana orang-orang Islam mendiami Palestina sampai berdirinya Negara Israel.
Sebelum negara Israel berdiri, orang-orang Yahudi menyebar diseluruh dunia. Pada tahun 1496, orang Yahudi dibantai di Spanyol oleh orang-orang Nasrani, kemudian ditampun oleh Sultan Turki dan diberikan tempat tinggal di Palestina. Pada Tahun 1940, orang Yahudi dibantai oleh Nazi di Jerman karena adanya pembersihan etnik oleh Nazi Jerman. Sesudah perang dunia II, Inggris menjanjikan tanah Palestina kepada Yahudi jika dia membantu mendanai perang (orang Yahudi menguasai ekonomi Inggris).
Inilah gambaran singkat sejarah orang-orang Yahudi. Tapi yang perlu kita analisis juga adalah doktrin agama Yahudi yang menganggap orang Yahudi adalah umat pilihan Tuhan, dialah yang berhak memimpin dunia ini. Kepada orang selain Yahudi, diadalah orang-orang zalim yang harus diperintah dan dikuasai kalau perlu dengan kekerasan.
Fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah kekuasaan orang-orang Yahudi dibidang ekonomi dunia dan ilmu pengetahuan. Orang Yahudi yang mengendalikan beberapa usaha-usaha penting yang menjadi jantung perekonomian suatu negara (Amerika Serikat). Dari segi ilmu pengetahuan, orang Yahudi menjadi penguasa dibidang teknologi komputerisasi (Intel), serta bidang-bidang lainnya.
Karena perang tidak bisa terjadi hanya oleh satu pihak (Yahudi), kita juga membahas sedikit bangsa Palestina. Palestina merupakan salah satu dari tiga daerah suci umat Islam, setelah Mekah dan Madinah. Disini terdapat mesjid suci umat Islam (Mesjid Aqsa). Bangsa ini sudah menjadi bangsa orang arab mulai ditaklukkannya Palestina oleh Umar bin Khattab pada abad ke-7, sampai pada perang dunia I (1918). Dan umat Islam Arab Palestina adalah pemilik asli tanah ini. Pada tahun 1948, Israel memproklamasikan diri menjadi sebuah negara di Palestina. Keadaan ini otomatis membuat perang secara luas, karena bangsa Palestina tidak sudi tanah airnya diambil begitu saja oleh Israel, apalagi, Palestina adalah kota suci umat Islam. Sehingga muncullah gerakan perlawanan (PLO). Organisasi ini bertujuan untuk menjadikan negara Palestina merdeka. Dipihak lain muncul gerakan perlawanan Hamas yang mengambil ideology Agama Islam sebagai basis perjuangan (jihad), serta tidak mengakui eksistensi Israel sedikitpun. Israel harus dilenyapkan dari bumi Palestina, karena Palestina adalah milik bangsa Palestina, dan bangsa Israel adalah penjajah.
Identifikasi Masalah
Dari permasalah tadi dapat ditarik kesimpulan, mengapa bangsa Israel menyerang Bangsa Palestina, karena beberapa factor dibawah ini:
a. Sejarah panjang bangsa Yahudi, yang memberikan motivasi bersifat agresif untuk mempertahankan diri.
b. Adanya doktrin dari kepercayaan bangsa Yahudi bahwa bangsa Yahudi adalah pemimpin seluruh umat, sehingga melegalkan pembataian kepada orang-orang selain Yahudi.
c. Faktor Agama, karena tanah Kana’an (Palestina) diperuntukkan untuk umat Yahudi
d. Motif ekonomi dan kependudukan untuk perluasan wilayah
Dipihak Bangsa Palestina, perang perlawanan dilakukan karena factor:
a. Jihad fisabilillah mempertahankan tanah suci
b. Pembalasan terhadap kekejaman yang dilakukan oleh Israel
c. Mempertahankan hak sebagai pemilik tanah Palestina
PEMBAHASAN
Perang/konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina tidak serta merta berlangsung begitu saja, banyak hal yang menyebabkan mengapa dan apa yang menyebabkan perang itu terjadi. Kita akan lihat konflik itu dari pandangan psikologis sosial
A. Teori-Teori Konflik
Konflik adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih[2]. Konflik dapat terjadi antrindividu, antar kelompok kecil bahkan antarbangsa dan Negara.
1. Bantuk-Bentuk Konflik
Bentuk-bentuk konflik yang ada di sekitar kita antara lain:
a. Pertentangan pribadi, adalah yang konflik yang terjadi antara satu orang dengan orang lain. Jumlah yang terlibat hanya dua orang, satu subjek dan satu objek.
b. Pertentangan rasial, adalah pertentangan antar ras. Contoh ras Cina dan ras pribumi, antara ras Negro dan ras kulit putih. Perbedaan ras muncul karena perbedaan letak geografis dan kebudayaan suatu suku bangsa. Perkembangan dalam ras sendiri akan muncul sikat etnosentrisme yang pada akhirnya memunculkan sikap stereotype terhadap ras lain, yang menganggap ras tertentu lebih superior dari pada ras lain, ras satu lebih beradab dan ras lain itu biadab.
c. Pertentangan antara kelas-kelas sosial, umumnya disebabkan oleh karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan. Pertentangan antara kelas atas dan kelas bawah karena motif ekonomi ataupun kecemburuan sosial.
d. Pertentangan politik ataupun pertentangan yang bersifat internasinal. Pertentangan politik ini karena perbedaan ideology yang dianut suatu Negara dengan Negara lain.
Pertentangan antara Israel dan Palestina adalah jenis pertentangan Politik, rasial, dan pertentangan kepentingan. Jadi konflik yang terjadi karena adanya perbedaan ras (ras Arab dan ras Yahudi), Politik antara ideology Yahudi dan Islam, serta kepentingan yang bersifat ekonomi pragmatis, ataupun kepentingan kekuasaan tertentu terhadap suatu wilayah
2. Akibat-Akibat Konflik
Dengan adanya konflik, mengakibatkan keadaan dalam suatu kelompok pada bentuk-bentuk dibawah ini:
a. Timbulnya solidaritas “in-groups”. Konflik akan mengakibatkan solidaritas dalam suatu kelompok, karena kelompok mempunyai musuh bersama dari luar. Konflik antara Israel dan Palestina yang mengatas namakan penyelamatan tanah suci umat Islam, mendapat reaksi dan dukungan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Mereka akan bersama mengecam serangan Israel karena rekan seagama (in-group) yaitu Palestina mendapat bahaya.
b. Retaknya persatuan kelompok. Ini adalah hal yang sebaliknya yang diakibatkan oleh konflik antar kelompok. Kelompok umat Islam tidak sama persepsinya dalam menghadapi serangan Israel terhadap Palestina. Ada segolongan umat Islam (Pemerintah yang mau bekerja sama dengan Israel) yang mendukung bahkan tidak berbuat apa-apa ketika Palestina di serang oleh Israel.
c. Perubahan Kepribadian. Konflik dapat memotivasi individu untuk memenangkan perang. Untuk memenangkan perang, kelompok tertentu harus berpegang kuat pada asas-asas perjuangan yang dipegang bersama sebagai suatu ikatan dalam kelompok. Yahudi akan memegang teguh Agamanya dan umat Islam Palestina akan berusaha mengamalkan agamanya sesuai dengan ajaran Islam. Mereka berperang atas nama agama, sehingga kepribadian msing-masing harus sesuai dengan tuntunan agama. Fakta bahwa pejuang Palestina lebih banyak hafish Al-Qur’an, dan akan diterima dalam kelompok (Hamas) jika memenuhi criteria tersebut.
d. Hancurnya harta benda dan korban manusia. Ini adalah hal yang tidak bisa dihindari dari adanya peperangan.
e. Akomodasi, dominasi dan takluknya satu pihak tertentu. Perang akan berakhir, jika ada salah satu pihak yang kalah. Pihak pemenang akan mendominasi, pihak yang kalah sehingga akan terjadi asimilasi dan akomodasi.
3. Konflik karena adanya Dilema Sosial
Teori dari Rapport (1960) menjelaskan konflik antarindividu yang dikenal sebagai teori dilema terdakwa (prisoner’s dilemma). Dalam kehidupan sehari-hari teori dilemma terdakwa ini dapat menjelaskan mengapa dua orang atau dua kelompok yang saling bermusuhan tidak mau saling berdamai, walaupun keduanya sama-sama menderit kerugian. Dia beralasan, jika saya yang mengajak berdamai lebih dahulu, seakan-akan saya yang salah dan dia yang benar. Lawan pun akan berskap yang sama, sehingga tidak ada yang berinisiatif untuk berdamai.
Karena sikap dilemma ini, untuk mendamaikan suatu pertentangan kelompok adalah dengan jalan mediasi kelompok lain. Dengan adanya mediasi dari kelompok netral, diharapkan mencari sisi-sisi persamaan nilai untuk menghentikan konflik yang terjadi.
B. Faktor-Faktor Penyebab Konflik Antara Israel dan Palestina
Faktor utama yang mendasari terjadinya konflik (perang) antara Israel dan Palestina adalah factor histories, ekonomi dan agama. Melihat factor yang mendasari terjadinya perang tersebut, keduanya dapat digambarkan pada bagan berikut ini:
1. Historis
Faktor histories mempengaruhi suatu kelompok/negara dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Permasalahan yang terjadi sepanjang rentang waktu akan menjadi referensi dalam pengambilan kebijakan. Bangsa Yahudi yang sudah ada sejak zaman sebelum masehi, merupakan bangsa yang tetap teguh mempertahankan nilai-nilai budayanya. Rentang waktu yang panjang ini, bermacam-macam masalah yang dihadapi, sehingga memperkaya cara menyelesaikan masalah (Kurt Lewin/lokus-lokus pengalaman). Umat Yahudi dilihat dari sejarah selalu mendapat perlakuan yang sangat kejam dari penguasa sebelumnya (pembantaian di Spanyol dan di Jerman). Ini yang mengakibatkan sehingga Yahudi ini bersifat refresif/menyerang bangsa-bangsa Arab yang yang disekitarnya. Peristiwa kekejaman yang dialami masa lalu umat Yahudi, ditampakkan dengan berlaku kejam juga dengan bangsa lain.
Dengan belajar dari sejarah, umat Yahudi berusaha menguasai dunia, baik dari segi politik maupun ekonomi. Mereka tidak mau hidup nista seperti masa-masa sebelumnya.
2. Agama
Agama dijadikan sebagai pelegalan pembataian umat manusia. Orang Yahudi menganggap bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan, yang bertugas memimpin manusia. Persepsi dan fanatisme terhadap agama dapat menyebabkan sikap etnosentrisme dan stereotype terhadap kelompok lain. Umat Yahudi menganggap dirinya umat terbaik, pilihan Tuhan di muka bumi. Agama dijadikan sebagai alat, dan pemersatu umat Yahudi umat mencapai cita-citanya menguasai seluruh dunia.
Dengan agama ini, umat Yahudi tergabung membentuk zionisme, yaitu gerakan membentuk Israel raya, yang berpusat di Al-Quds/Yerusalem yang merupakan tempat suci umat islam (Mesjid al-Aqsa).
3. Ekonomi dan Perluasan Wilayah
Motif lain dari perang Israel adalah motif adanya motif ekonomi. Motif ini biasanya tersembunyi. Motif ini adalah motif kepentingan kelompok tertentu dalam hal ini Israel dalam mempeluas wilayah kekuasaannya di wilayah Palestina. Perang enam hari (1967), Israel berhasil memperluas dan mengusai beberapa daerah milik bangsa arab.
SOLUSI PERMASALAHAN
Konflik yang terjadi antara bangsa Israel dan bangsa Palestina, adalah konflik yang terjadi cukup panjang, dan diperkirakan akan berlangusung seterusnya. Menilik pesan-pesan kitab suci (Taurat,Injil danAl-Qur’an), konflik ini akan berakhir pada akhir zaman.
Injil dan Taurat mengabarkan bahwa pada akhir zaman akan ada kerusuhan terbesar didunia, yaitu perang Armageddon, yaitu perang antara orang beriman dan orang kafir. Dalam Islam mengabarkan secara jelas bahwa, orang Yahudi dan orang Nasrani tidak akan pernah berhenti memusuhi kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka. Pada akhir zaman akan terjadi perang antara umat Islam dan Yahudi, dimana Yahudi akan dikalahkan, semua orang Yahudi akan binasa, tempat persembunyian Yahudi akan berbicara mengabarkan bahwa ada umat Yahudi bersembunyi dibelakangku.
Ini adalah pengabaran kitab suci. Bagaimana jika dilihat dari ilmu psikologi sosial? Mungkinkah perdamaian antara orang Yahudi dan Islam Palestina diwujudkan?
Dilihat dari sudut pandang psikologi sosial, konflik dapat diatasi dengan pendekatan psikologi, dan sosiologi. Demikian pula konflik yang terjadi antara Yahudi/Israel dengan Bangsa Palestina. Solusi penangan konflik itu, sesuai dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya adalah:
1. Perbedaan sak wasangka/prasangka harus dihilangkan, yang sama-sama mengkafirkan di kedua belah pihak, sehingga timbul perasaan tidak bersalah jika membunuh orang kafir.
2. Komunikasi yang intens pada kedua belah pihak untuk mengurangi dispersepsi.
3. Adanya mediator sebagai penengah permasalahan konflik ini.
4. Menghilangkan fanatisme agama, sehingga memudahkan terjadi asimilasi budaya,.
Konflik dapat terjadi karena factor intern (agresivitas), maupun factor ekstern (pengaruh sejarah, kebudayaan dan kebiasaan yang sudah mengakar selama beberapa generasi). Faktor ini akan berakibat memperpanjang perbedaan dan konflik. Untuk mengatasinya adalah dengan adanya saling pengertian dikedua belah pihak dengan memandang keberadaan masing-masing secara setara.

Referensi
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2006. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Press

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press

Faturrahman. 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta: Katalog dalam terbitan

[1] Lihat Psikologi Sosial Individu dn Teori-Teori Psikologi Sosial oleh Sarlito Wirawan Sarwono hal 156, dan Psikologi Kepribadian oleh Sumadi Suryabrata, hal 227-229.
[2] Sarlito Wirawan Sarwono.2005.Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan.  129-130.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar