Keberhasilan Tes IQ dalam Memprediksi Kesuksesan Karyawan

Tes-tes psikologis umumnya digunakan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan-keputusan tentang pekerjaan, (meliputi konseling individual maupun keputusan-keputusan kelembagaan) yang menyangkut seleksi dan klasifikasi presonalia. Tes-tes yang digunakan dalam pekerjaan untuk memprediksi keberhasilan seseorang karyawan dalam posisi kerja atau jabatan yang dipegang, sudah dikembangkan sejalan dengan berkembangnya ilmu psikologi sebagai suatu disiplin ilmu.
Pada tahun 1917, menghadapi perang dunia I, APA (American Psychology Association) membentuk komite yang bertugas mencari cara agar psikologi dapat menyumbangkan bantuannya bagi Amerika dalam perang. Robert M. Warkes (ketua umum komite), mengklasifikasikan 1 setengah juta orang sebagai tenaga wajib militer menurut tingkat intelegensinya. Lalu Arthur S. Otis menyumbangkan rancangan-rancangan soal yang terbuat untuk digunakan dalam tes tersebut. Maka lahirlah Army Alpha, sebagai tes intelegensi kelompok yang pertama. Kemudian ia menyesuaikan tes itu untuk individu buta huruf & wajib militer bukan kelahiran Amerika dengan tes Army Betha. Selanjutnya tes-tes kelompok mulai dikembangkan baik dari adaptasi Army maupun dengan model sendiri. Tes-tes itu antara lain:
  1. Tahun 1918 tes kelompok oleh Otis & Pressey. 
  2. Haggerty & Whipple tahun 1999 --- tes standar. 
  3. Test National Intelegences Test oleh Whipple tahun 1920. 
  4. Tes kelompok Terman 1928. 
  5. Tes Kelompok lisan oleh Stump tahun 1935. 
  6. Tes mental untuk mahasiswa oleh Thurstone & American Council on Faucation tahun 1919, dll
Tes-tes Psikologis aspek-aspek yang dilihat dalam tes tersebut
IST (Intelegences Struktural Test)
Test ini terdiri atas 9 subtes, yang digunakan untuk mengukur tes intelegensi secara umum. Hal-hal yang diukur dari tes IST ini terdiri dari kemampuan bahasa, kemampuan verbal, kemampuan, matematika, kemampuan menyusun bentuk dan ruang dan ketepatan memori.
Tes SPM
Digunakan dalam tes pencarian kerja karena menguji kecepatan dan ketelitian dalam berfikir. Tes ini didasarkan pada konsep eduksi hubungan dan eduksi korelasi yang level kesukaran yang terus naik sehingga menuntut kapasitas intelektual yang lebih untuk menentukan dasar penalaran.
Tes Kreaplin
Menguji aspek ketelitian, kecermatan, tingkat keuletan adanya konsentrasi dalam melaksanakan tugas. Tes ini biasa dipakai untuk seleksi kepolisian, tentara, akuntan, pegawai bank.
Tes Grafis
Tes ini adalah tes menggambar orang dan pohon. Tes ini dipakai dalam berbagai seleksi untuk mengetahui aspek kepribadian calon pelamar dan kesesuaian terhadap pekerjaan tersebut.
Tes Kemampuan Umum dan Wawasan
Tes ini adalah tes adaptif, dengan item soal umum yang tidak tetap, namun terstandar. Test-test ini digunakan untuk menggali wawasan pelamar kerja dan kaitannya terhadap job yang mereka lamar. Misal tes seleksi guru, pegawai bank, tentara, polisi dan lain-lain.
Validasi Tes Pekerjaan
Validasi tes pada seleksi karyawan adalah ketepatan dalam menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan dan kualifikasinya. Salah satu pendekatan pada seleksi personalia menggunakan prosedur penaksiran yang mirip dengan keseluruhan dan kenyataan situasi pekerjaan yang nyata.
Selama beberapa tahun, pendapat yang umum dalam psikologi dalah bahwa tes-tes seleksi seharusnya menjalanjan validasinya yang berskala penuh terhadap criteria local dari kinerja pekerjaan. Analisa pekerjaan adalah salah satu metode yang paling tua dan paling layak dijalankan yang dikembangkan dalam psikologi industry. Aplikasinya dalam memvalidasi tes-tes pekerjaan terus berkembang sejalan dengan penggunaan computer sebagai alat bantu untuk mempermudah penghitangan dan analisa data.
Sejumlah tes menggunakan simulasi untuk memproduksi fungsi-fungsi yang dijalankan dalam suatu pekerjaan. Simulasi-simulasi bercampur secara tak terlihat dengan sampel-sampel pekerjaan.
Penggunaan Tes dalam Pekerjaan
Ketepatan penggunaan tes dalam keputusan-keputusan personalia tak dapat dibahas terpisah dari maksud dan tujuan, konteks dan situasi serta populasi yang ada dalam konteks tersebut. Seharusnya diperhatikan juga bahwa pengkategorian tes-tes untuk memudahkan pembahasan, dalam praktiknya garis pemisah antara pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan ciri-ciri kepribadian tidaklah selalu jelas. Kebanyakan keputusan-keputusan personalia tes menggunakan perpaduan satu atau lebih ukuran dan juga sejumlah alat penaksir lain, misalnya wawancara atau data-data lain termasuk intelegensi.
Intelegensi adalah istilah yang luas, dengan banyak defenisi. Antara lain defenisi yang didasarkan pada budaya, perbedaan masa sejarah, dan perbedaan tahap kehidupan. Sebaliknya, tes-tes intelegensi tradisional, meliputi suatu kelompok keterampilan kognitif dan pengetahuan yang lebih terbatas dan lebih mudah didefenisikan, tetapi mampu memprediksi kinerja baik dalam aktivitas akademik maupun aktivitas pekerjaan yang dituntut dalam masyarakat modern.
Telah diketahui bahwa kinerja pada tes-tes intelegensi akademik memiliki korelasi yang substansial dengan tingkat pendidikan. Maka akan kelihatan bahwa persyaratan pendidkan bisa diterapkan untuk mencakup kualifikasi pelamar dalam kelompok keterampilan kognitif dan pengetahuan. Tapi ini dirasa tidak adil, karena pengetahuan dan keterampilan kita dapat diperoleh melalui pendidikan non formal atau pelatihan-pelatihan yang lain[1].
Kesimpulan
Hal – hal yang mempengaruhi kesuksesan tes IQ dalam memprediksi kesuksesan karyawan adalah: 
  1. Budaya dan kebiasaan. Efek budaya sangat berpengaruh dalam keberhasilan suatu alat tes memprediksi calon karyawan atau kandidat suatu jabatan tertentu. Tes-tes IQ dari budaya Barat misalnya belum tentu valid untuk diterapkan di budaya Timur. Ini dikarenakan adanya perbedaan nilai yang dipegang oleh masing-masing budaya. Perbedaan nilai akan menyebabkan perbedaan cara memandang suatu masalah yang dihadapi. 
  2. Tingkat pendidikan dan latihan. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam mengerjakan tugas-tugas pekerjaan tertentu. Efek dari pendidikan dan latihan ini mempengaruhi validitas tes yang akan diberikan, padahal keberhasilan seseorang pada pekerjaan tertentu ditentukan oleh bagaimana orang itu menyikapi dan beradaptasi dengan pekerjaannya.
  3. Kebocoran alat dan perangkat tes. Ini adalah fenomena yang berkembang beriring dengan kurang ketatnya pengawasan dan sanksi yang diberikan pada para pelaku pembajakan yang tidak bertanggungjawab. Alat-alat tes banyak diperjual belikan ditoko-toko dengan sangat mudah didapat.

[1] . Lihat “Tes Psikologi” oleh Anne Anastasi. Hal: 548
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar